LHOKSEUMAWE Viral "Wajib, pendatang, pengunjung dan pegawai ..... menggunakan bahasa Aceh, lisan dan tulisan di Hari Jum'at"

LHOKSEUMAWE Viral – Suaidi Yahya (Walikota Lhokseumawe) mewajibkan  pendatang atau masyarakat luar Aceh dan pegawai Instansi pemerintah, mulai dari dinas, kantor, badan daerah dan sekolah menggunakan bahasa Aceh lisan dan tulisan untuk sebuah alasan membudayakan bahasa lokal, bahasa nenek moyang kita “bahasa Aceh”, pungkasnya.
 Penggunaan bahasa Aceh pada setiap hari Jumat di lingkungan kantor pemerintahan dan sekolah di otorita kota Lhokseumawe ini diawali dengan Surat Edaran telah diedarkan dan di tanda tangani beliau di Lhokseumawe sejak Minggu (25/8/2019) ke seluruh instansi pemerintah dan sekolah yang berada dalam otorita Kota Lhokseumawe.
 “Wajib menggunakan bahasa Aceh bagi masyarakat, pendatang maupun untuk masyarakat lokal khusus hari jum’at baik secara verbal maupun nonverbal. Artinya, selain dalam percakapan, dalam surat menyurat pun wajib diterapkan Wajib menggunakan bahasa Aceh khusus untuk aktifitas/transaksi/persuratan yang dilakukan pada hari Jumat. Hal ini yang disampaikan Bapak Suaidi Yahya, Minggu (25/8/2019) di Lhokseumawe.
Beliau juga mengungkapkan bahwa, jika ada pendatang atau masyarakat yang berasal dari luar Aceh yang mengunjungi kantor walikota pada hari Jumat, akan disediakan penerjemah dan Para pegawai di lingkungan Kantor walikota akan melayani mereka dengan menggunakan bahasa Aceh.


Suaidi Yahya 
Walikota Lhokseumawe (2017-2022)


“Nanti ada penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa Aceh. Pegawai yang melayani orang itu akan menjawabnya pakai bahasa Aceh,” sebut Suaidi.

 Tujuan kebijakan ini dibuat atas pertimbangan untuk membudayakan kembali bahasa Aceh dibumi Serambi Mekah secara umum, wal khusus san kepada generasi milenial Kota Lhokseumawe.
 Menurut beliau, “Saat ini, generasi milenial kota Lhokseumawe semakin banyak yang tidak lagi menggunakan bahasa Aceh dalam percakapan kesehari-hariannya. “Bahaya sekali, bahasa ibunya dia tak bisa lagi,” imbuhnya.
 Sebagai solusi dan antisipasi pudarnya warna budaya Aceh di Lingkungan Adat sendiri dan hilangnya minat pada generasi Milenial kota Lhokseumawe dalam menggunakan bahasa Aceh, maka untuk mengawalinya dilakukan dengan mengedarkan surat edaran ketentuan penggunaan bahasa Aceh pada otorita Kota Lhokseumawe terkhusus kepada pegawai Instansi pemerintah, mulai dari dinas, kantor, badan daerah dan sekolah serta pengunjung atau masyarakat dari luar Aceh dan untuk menggunakan bahasa Aceh ketika berada dalam lingkungan ini, meskipun kebijakan ini masih baru sebatas surat edaran. Setelah masa sosialisasi dianggap cukup hingga ke pelosok desa maka nantinya pihaknya akan membuat wacana yang telah ditetapkan dalam surat edaran dimaksud kedalam peraturan wali kota atau qanun (peraturan daerah) tentang penggunaan bahasa Aceh di wilayah Kota Lhokseumawe.


Tanggapan: “Ini langkah kita untuk kembali membudayakan bahasa lokal, bahasa nenek moyang kita, yaitu bahasa Aceh,”.(*)

Comments

Most Popular